807 tayangan
diinformasikan dalam SHARING PENGALAMAN oleh (350 poin)
Kejadian ini dialami oleh kakak pacar saya sekitar 2bulan yang lalu. Beliau, sebut saja mas Teddy, berniat menjual rumahnya di daerah Srengseng. Karena ingin lebih banyak menjaring pembeli, maka beliau memasang iklan penjualan rumahnya di beberapa media pengiklanan, seperti internet, harian Pos Kota dan Kompas.

Tidak berapa lama setelah iklan di pasang, beberapa calon pembeli rumah mulai menelpon dan menanyakan macam2 tentang rumah yang akan di jual kakak pacar saya. Hingga ada satu calon pembeli yang kedengarannya ramah, karena menghubungi kakak pacar saya dengan bahasa yang santun dan terlihat sopan sekali (walaupun belum pernah bertemu, karena komunikasi selama ini hanya dilakukan melalui telepon).

Duduk persoalannya adalah ketika calon pembeli tersebut (yang notabene penipu) itu menghubungi kakak pacar saya beberapa kali, sehingga seolah-olah dia sudah melihat rumah yang akan dibeli dan berhasil meyakinkan sekali kakak pacar saya bahwa dia benar2 akan membeli rumah tersebut.

Kali pertama telepon, si penipu tersebut menanyakan macam2 tentang rumah, bagaimana kondisinya, sudah dimiliki berapa lama, apakah ada surat tanah, PBB dsb. Kali kedua, si penipu tersebut meyakinkan bahwa dia sudah pernah berkunjung dan melihat kondisi rumah tersebut, karena rumah tersebut tidak ada yg jaga dan kebetulan lokasinya berada di luar kota Jakarta jadi calon pembeli hanya bisa melihat dari luar saja. Penipu tersebut berkata seolah2 memang benar2 pernah melihat rumah tersebut dengan menyebutkan ciri2 fisik rumah, misal: ‘Pagar rumah bapak warna putih kan?’, ‘Temboknya warna krem kan pak? Yang ada tanaman sokanya di depan rumah’, ‘Gentengnya warna abu2, terasnya agak luas’ dsb. Hingga akhirnya mas Teddy, benar2 percaya bahwa penipu itu benar2 akan membeli rumah tersebut.

Hingga akhirnya setelah deal2 harga OK dilakukan kedua belah pihak, maka transaksipun terjadi. Disinilah sebenarnya hal yang paling penting dari semua percakapan yang telah terjadi sebelumnya. Dan saya ingatkan sebelumnya, jangan pernah anda melakukan transaksi melalui ATM maupun hanya lewat telepon, sekalipun anda benar2 sudah percaya dengan orang yang belum anda pernah lihat sebelumnya, usahakan transaksi dilakukan secara tunai atau kalaupun amount yang akan di transfer dalam jumlah besar, usahakan untuk selalu bertemu muka atau minimal anada mengenal tipikal orang tersebut, kalau perlu ada pihak ketiga dari anda yang mengetahui jalannya transaksi, minimal yang mengerti dan pernah melakukan transaksi jual beli dalam jumlah yang besar amountnya.

Oke kita lanjut, si penipu bilang kepada mas Teddy bahwa dia akan mentransfer sejumlah uang yang di minta mas Teddy seharga rumah yang dijual dengan harga yang sudah di sepakati sebelumnya. Penipu tersebut bilang bahwa kira2 sore uangnya sudah tertransfer, sehingga mas Teddy bisa langsung mengeceknya. Tetapi tidak sampai sore, penelpon tersebut menelpon bahwa uangnya sudah di transfer dari rekening si penipu ke rekening mas Teddy. Sore harinya, mas Teddy mengecek, ternyata masih kosong, belum ada penambahan uang di rekeningnya. Lalu mas Teddy, telepon balik ke si penipu tersebut. Dengan gayanya yg sok ramah dan terkesan bersahabat, penipu itu bilang bahwa: ‘Oh maaf pak, mungkin sedang ada masalah di BCA nya, padahal saya tadi sudah transfer. Oke akan saya hubungi pihak BCA nya pak, agar saya bisa langsung mengadukan masalah ini’. Transaksi dilakukan melalui ATM BCA.

Selang beberapa menit, orang tersebut menghubungi mas Teddy kembali, tetapi kali ini dia sepertinya sedang terhubung dengan (ngakunya) pihak BCA, bagian Customer Servicenya. Percakapan berjalan antara 3 orang, yaitu mas Teddy, si penipu dan (orang yang ngaku2) pihak BCA. Setelah itu dengan gaya bahasanya yang meyakinkan si pihak BCA ini memandu mas Teddy untuk mengoperasikan mesin ATM BCA terdekat.

Dan hingga akhirnya setelah beberapa langkah pengecekan dilakukan mas Teddy berdasarkan panduan si pihak BCA, ada satu tombol yang tinggal sekali di pencet oleh mas Teddy (entah tombol apa), yang pasti ada wanita di belakang mas Teddy yang kebetulan melihat mas Teddy akan memencet tombol tersebut, dan dengan sigap dan reflek, wanita tersebut berteriak dan bilang seper berapa detik sebelum mas Teddy memencet tombol itu, karena telunjuknya sudah menyentuh tombol yg dimaksud: ‘PAK JANGAN PENCET TOMBOL ITU!!!!’. Tetapi karena mas Teddy sudah terlanjur percaya dengan orang yang menelpon nya, apalagi dipandu langsung dari pihak BCA, maka iapun tak peduli dan memang waktunya sangat mendesak, karena yang antri banyak dan lagi tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Akhirnya..

BLASS…..

Ditekanlah tombol itu.

‘Terimakasih pak, uangnya sudah tertransfer dari rekening pak A (si penipu itu) ke rekening bapak. Silahkan di cek beberapa menit lagi’.

‘Pak tombol itu berbahaya, itu akan mentransfer seluruh rekening bapak ke nomor rekening tujuan’, kata wanita di belakang mas Teddy tadi.

Segera setelah itu mas Teddy mengecek informasi saldo rekeningnya. Dan tahukah anda apa yg terjadi? Yap betul, seluruh rekening mas Teddy amblas, hanya tersisa 10.000 rupiah. Lemaslah mas Teddy setelah melihat sisa rekening di tabungannya.

Segera mas Teddy menghubungi kembali si pak penipu yang mau membeli rumah, tetapi apa lacur, nomor yang dihubungi tidak diangkat2. Setiap jam di telepon, tetapi sepertinya nomornya sudah di non aktifkan. Semakin hampa saja harapan mas Teddy untuk mendapatkan uangnya kembali. Pulang kerumah, setelah bercerita apa yg dialami, ternyata kakak mas Teddy, yang merupakan kakak pacar saya, mas Tony,  juga pernah mengalami hal seperti itu, tetapi dulu ia menyiapkan rekening kosong untuk menerima uang dari calon pembeli, tapi memang ternyata yang mau beli adalah penipu juga, karena kejadiannya sama persis seperti yang dialami oleh mas Teddy.

Kasian mas Teddy sekarang, padahal itu adalah seluruh tabungan yang di kumpulkan selama ini untuk kehidupan hari tuanya, dan anak2nya, istrinya hanya bisa mengelus dada dan terus istigfar atas apa yang dialami mas Teddy.

Dari kejadian ini ada beberapa poin yang menjadi concern saya:
1. Jangan pernah hanya punya satu tabungan, jadi selalu ada backup tabungan anda jika sewaktu2 terjadi hal2 yang tidak diinginkan
2. Usahakan kenali calon pembeli anda terlebih dahulu sebelum transaksi terjadi, bertemu muka atau minimal anda bisa mendapatkan kopian KTPnya, apalagi berhubungan dengan penjualan yang harganya diatas 1 juta-an (karena menurut saya angka satu juta juga sudah lumayan besar)
3. Jangan pernah percaya dengan orang yang menelpon anda yg ngakunya dari bank. Pastikan yang menelpon anda benar2 dari bank dan menanyakan tau nomor kita dari mana.
4. Waspadai jenis2 penipuan jaman sekarang dan selalu update akan informasi terbaru tentang penipuan jaman sekarang, entah itu hipnotis, atau memanfaatkan ketidaktahuan kita sebagai orang awam(seperti yang terjadi pada mas Teddy ini), atau mungkin memanfaatkan kelengahan kita pada saat kita tidak sadar.

Itulah salah satu pengalaman yang pernah saya dengar.  Selalu waspadalah terhadap orang baru yang anda kenal apalagi untuk transaksi.
Bagikan laporan ini

hosting

Informasi Modus Penipuan Dan Kejahatan terkait

0 saran 316 tayangan
0 saran 1.5k tayangan
0 saran 3k tayangan
0 saran 356 tayangan
0 saran 140 tayangan
cybercrime
Situs ini adalah media sosial online independent sharing berbagai bentuk informasi, dan kejahatan Cyber-Crime yang melanda dan terjadi di dunia maya internet online. Serta ikut partisipasi dalam memerangi segala tindakan kejahatan pada dunia maya. Terima kasih atas kontribusi semua pihak di media sosial ini dan semoga bermanfaat, amiin...
...