2.5k tayangan
diinformasikan dalam SHARING PENGALAMAN oleh (2.7k poin)

Baca Cerita Sebelumnya....

Tiba-tiba, saya memiliki ide untuk menjahili sekalian menipu balik mereka. Paling tidak, apa yang saya lakukan bisa membuat mereka kocar-kacir mencari tempat persembunyian baru, mematahkan kartu SIM, bahkan berdoa siang malam agar tidak masuk penjara.

"Jadi, bapak mau menipu saya nih ceritanya?" saya bertanya bak seorang tukang interogasi.

"Loh, jelas tidak, Pak. Saya malah mau kasih uang gratis."

"Tapi kenapa saldonya harus di atas 100 ribu? Kalau mau kasih, transfer saja dari situ sekarang."

"Iya, Pak. Sayang sekali saldo bapak tidak cukup. Sekarang bapak sobek struk transaksinya jadi 5 bagian. Didekatkan ke mesin ATM-nya. Satu sobekan bernilai 1 juta rupiah. Disobek ya, Pak. Kita pantau dari sini. Di setiap sobekan itu ada inframerahnya."

Saya merasa apa yang dikatakan orang tersebut mulai tidak masuk akal. Apa iya, setiap sobekan bernilai satu juta. Lucu sekali. Saya sobek sekali, padahal mereka memintanya 5 kali hingga berbentuk sangat kecil dan tidak terbaca. Mereka juga meminta saya membuang struk tersebut. Tidak saya lakukan. Saya simpan struk di saku celana saya. Berkali-kali kedua orang tersebut mempengaruhi saya untuk mencari rekening siapa saja yang bisa dipakai untuk transaksi. Tapi, saya hanya membalas, "Tidak, Pak. Sudah malam, lebih baik tidur."

"Pak, Anda penipu ya? Saya sekarang berada di depan kantor polisi dan mau melaporkan penipuan ini," kata saya.

"Apa bapak merasa dirugikan? Saldo bapak juga tidak berkurang. Bapak yang akan kami tuntut ke pengadilan," jawab si bapak penipu.

"Baiklah pak kalau mau dituntut, yang penting saya mau laporin duluan." Coba kalau saldo di rekening saya jutaan, rugi besar dong, pikir saya dalam hati. Kemudian sambungan telepon diambil alih oleh Pak Iwan kembali.

"Sudahlah, Pak. Bapak pulang yah, bapak pulang saja. Kita akan jelaskan di rumah. Lapor polisi tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan membuat repot," kata Pak Iwan berusaha menenangkan saya.

"Tidak mau, pokoknya saya mau lapor polisi saja."

"Tolong, Pak. Jangan lapor polisi. Kita tidak menipu, Pak."

"Ya sudah, kalau begitu kirim uangnya yang 5 juta ke rekening saya sekarang."

"Nanti saja kalo saldo bapak atau teman bapak mencukupi," elaknya.

"Tidak mau, kalau begitu saya mau lapor polisi saja."

 

Kedua penipu itu mulai memohon kepada saya untuk tidak berada di sekitar kantor polisi. Saat itu, saya memang sedang duduk di samping kantor Kepolisian Sektor Cipocok Jaya, Serang. Tapi, tidak untuk melapor, hanya menumpang duduk. Jika bisa, saya ingin membuat penipu kacangan itu menangis tersedu-sedu. Kemudian saya tanya nomor KTP milik mereka, namun dia beralasan tidak sempat membawanya ke kantor.

"Waduh saya tidak bawa, ketinggalan di rumah, Pak."

Masa ada pegawai bank, tapi kartu identitasnya tertinggal di rumah. Lucu sekali bukan. Tawa saya dalam hati. Makin lucu lagi, saat saya tanya nomor polisi kendaran bermotor yang dia pakai. Kini saya mulai memanggilnya dengan sebutan "Mas", biar lebih akrab.

"Mas, punya motor merek apa?"

"Punya. Vixion, Pak," jawabnya polos.

"Itu nomor polisi Vixion sudah lama tak bayar pajak. Nomornya kadaluarsa ya?" Saya berbicara asal, yang penting meyakinkan. Saya masih di sekitar kantor Polsek Serang.

"Wah, tidak, Pak. Kemarin saya bayar kok, tapi telat dua tahun," jawabnya.

"Bayarnya ke mana?" tanya saya, dengan nada semakin sadis.

"Ke dealernya."

"Mas ini ada-ada saja. Lucu banget kayak Teletubies. Masa bayar pajak ke dealer bukan ke Samsat. Itu mau bayar pajak atau cicilan motor? Terus mas mau bagi-bagi uang 5 juta tapi untuk bayar pajak saja telat 2 tahun, bagaimana sih?"

"Iya pak." Si penipu mulai tergagap, logat bataknya malah lenyap, bicaranya pun normal.

"Saya minta nomor STNK dan SIM-nya juga," saya lanjut interogasi si penipu ini.

"Aduh, maaf tidak ada, Pak."

"Bapak ini bagaimana, masa tidak punya SIM dan STNK. Saya sekarang sedang berada di Disdukcapil, lagi mencocokan identitas bapak. Bapak bohong yah?"

"Tidak, Pak. Asli kok, tidak bohong."

"Sudah, pokoknya saya mau lapor polisi."

"Sudah, Pak. Pulang saja. Jangan lapor polisi," penipu itu berkata dengan memelas.

Nah, ini puncaknya yang membuat dia semakin takut. "Bapak tahu saya siapa? Saya anggota Kepolisian Resort Serang, saya AKBP Supandriatna. Struk tidak saya sobek, pembicaraan ini saya rekam, dan sinyal telepon bapak kami lacak melalui BTS sim card yang bapak pakai. Semua bukti ini akan membawa bapak ke jalur hukum. Semua sudah cukup. Saya tahu lokasi bapak di mana sekarang. Anggota kami akan segera ke lokasi untuk menggerebek bapak dan yang lainnya." ucapku dengan suara tegas.

"Tutt..tutt..tuut" sambungan telepon terputus. Saya tertawa keras. Para penipu itu pasti sedang H2C (Harap-Harap Cemas). Hahaha. Bisa jadi mereka sedang berpikir untuk pindah tempat tinggal, ganti rekening, merusak kartu sim hp, sambil berpikir keras kabur dari kejaran polisi bernama AKBP Supandriatna alias Emi Rohemi.

Hingga pukul 01.00 wib dinihari, nomor telepon tersebut tidak aktif. Saya juga meminta bantuan pihak XL Axiata untuk memblokir nomor tersebut. Untuk Anda harap berhati-hati dengan penipuan semacam ini. Meski kita tidak diminta mentransfer uang, kita justru diarahkan untuk mendaftar atau bertransaksi via SMS Banking dan membeli voucher pulsa. Alih-alih kita dapat uang jutaan, saldo malah berkurang. Tidak tanggung-tanggung, jika tabungan yang terkuras nilainya sampai 5 juta rupiah.

Nah, bagi Anda yang mau coba mengikuti cara saya ngerjain si penipu ini, harus kuat dan tegas karena bicaranya penipu ini sangat meyakinkan. (Cerita ini dikirim oleh Emi Rohemi-Serang, Banten).

Kembali Ke-Episode Awal.

Bagikan laporan ini

hosting

Informasi Modus Penipuan Dan Kejahatan terkait

0 saran 3.5k tayangan
0 saran 644 tayangan
0 saran 891 tayangan
0 saran 548 tayangan
0 saran 1.5k tayangan
0 saran 208 tayangan
0 saran 321 tayangan
1 Saran 922 tayangan
cybercrime
Situs ini adalah media sosial online independent sharing berbagai bentuk informasi, dan kejahatan Cyber-Crime yang melanda dan terjadi di dunia maya internet online. Serta ikut partisipasi dalam memerangi segala tindakan kejahatan pada dunia maya. Terima kasih atas kontribusi semua pihak di media sosial ini dan semoga bermanfaat, amiin...
...